Tafsir Bi al-Ma’tsur dan Bi al-Ra’yi

Posted on February 16, 2012. Filed under: Uncategorized | Tags: , |

TAFSIR BI AL-MA’TSUR DAN TAFSIR BI AL-RA’YI

(Klasifikasi Metodologi Tafsir al-Qur’an)

Makalah Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Tafsir

Dosen Pembimbing:

Drs. H. M. Syakur Sf, M.Ag

Disusun Oleh :

S U G I T O

NIM : A.11.1.0710

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG

@ 2012

TAFSIR BI AL-MA’TSUR DAN TAFSIR BI AL-RA’YI

(Klasifikasi Metodologi Tafsir al-Qur’an)

 

 

  1. A.    Pendahuluan.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SwT adalah untuk menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.[1] Bahkan al-Qur’an juga semestinya menjadi petunjuk bagi seluruh manusia, baik ia muslim atau tidak.[2] Selain sebagai petujuk, al-Qur’an juga menjadi penjelas bagi petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang salah dan yang benar.

Berkedudukan sebagai petunjuk hidup, maka al-Qur’an harus dipahami oleh umat manusia, khususnya umat Islam. Untuk itulah dibutuhkan perangkat yang namanya ilmu tafsir.

Ilmu tafsir itulah yang bisa dipakai untuk menguraikan maksud yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an, mengingat al-Qur’an diturunkan selain dengan gaya bahasa yang sangat tinggi, juga terdapat ayat-ayat yang muhkam[3] dan mutasyabih[4]. Dalam hal ini para ulama’ sering mengklaim bahwa al-Qur’an diturunkan dengan kalimat yang ringkas namun membawa unsur-unsur uslub (gaya) bahasa yang padat makna sehingga membuat para ahli bahasa zaman dahulu (bahkan sampai sekarang) tidak mampu menandingi al-Qur’an.[5] Selain itu, juga tidak setiap orang memiliki kompetensi untuk menafsirkan al-Qur’an.

Dalam buku Membumikan al-Qur’an, Quraish Shihab menjelaskan bahwa pada abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Sebagian ulama bahkan bila ditanya mengenai satu ayat, mereka tidak memberikan jawaban apapun.[6] Keengganan mereka untuk menjelaskan ayat al-Qur’an bisa dimengerti mengingat masih ada Rasulullah yang berkompeten dalam menjelaskannya, selain karena mereka umumnya takut apabila salah dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an tersebut.

Namun pada abad-abad berikutnya, sebagian besar ulama berpendapat bahwa setiap orang boleh menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an selama ia memiliki syarat-syarat tertentu seperti : pengetahuan bahasa yang mencakup Nahwu, Sharaf, Balaghah, juga Ilmu Ushuluddin, Ilmu  Qira’ah, Asbab al- Nuzul, Nasikh- Mansukh, dan lain sebagainya.[7]

Makalah ini akan menjelaskan tentang metodologi dalam menafsirkan al-Qur’an yang diklasifikasikan dalam dua metode, bi al ma’tsur dan bi al-ra’yi. Dan bagaimana cara penggunaan keduanya dalam rangka menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

  1. B.     Tafsir bi al-Ma’tsur
    1. 1.      Pengertian

Sebelum menjelaskan mengenai tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi, maka alangkah baiknya kita lihat pengertian tafsir terlebih dahulu. Menurut ‘Ibn Hayyan ialah tafsir suatu ilmu yang membahas cara menuturkan/ membunyikan lafadz-lafadz al-Qur’an, Madlul-Madlulnya baik mengenai kata tunggal maupun mengenai kata tarkib dan makna-maknanya yang digantungkan oleh keadaan susunan dan beberapa kesempurnaan bagi yang demikian seperti, Nasakh, Asbab al-Nuzul, kisah yang mengatakan apa yang tidak terang di dalam al-Qur’an dan lain-lain yang mempunyai hubungan erat dengannya.[8]

Sedangkan ‘Ali Hasan al-‘Aridl menjelaskan bahwa tafsir  ialah ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz al-Qur’an, makna-makna yang ditunjukkannya dan hukum-hukumnya, baik ketika berdiri sendiri atau tersusun serta makna-makna yang dimungkinkan ketika dalam keadaan tersusun.[9]

Menurut al-Zarkasyi, istilah tafsir bi al-ma’tsur merupakan gabungan dari tiga kata; itafsir, bi dan al-ma’tsur. Secara leksikal tafsir berarti mengungkap atau menyingkap. Kata bi berarti ‘dengan’ sedangkan al-ma’tsur berarti ungkapan yang dinukil oleh khalaf dari salah. Dengan demikian secara etimologis tafsir bi al-ma’tsur berarti menyingkap isi kandungan al-Qur’an dengan penjelasan yang dinukil oleh khalaf dari salaf.[10]

Sedangkan secara terminologis pengertian tafsir bi al-ma’tsur yaitu:

هو الذى يعتمد على صحيح المنقول بالمراتب التي ذ كرت سابقا في شروط المفسر من تفسر القران بالقران, او بالسنة ﻷ نها جاءت مبينة لكتاب الله. او بما روي عن الصحاب نهم اعلم الناس لكتاب الله. او بماقاله كبار التابعين  ﻷنهم تلقوا  ذ لك غالبا عن الصحابة.

Artinya : “Tafsir bi al-Ma’tsur ialah tafsir yang berpegang kepada riwayat yang Shahih, yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan al -Qur’an, atau dengan sunnah karena ia berfungsi menjelaskan kitabullah, atau dengan perkataan para Sahabat  karena merekalah yang paling mengetahui kitabullah atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh besar tabi’yn karena pada umumnya mereka menerima dari para Sahabat”.[11]

Definisi seperti ini, menurut catatan al-Suyuthi berasal dari Ibnu Taimiyah, dan dipopulerkan oleh al-Zarqani yang nota bene termasuk ulama’ kontemporer. Al-Zarqani adalah orang yang pertama menyebutkan bahwa tafsir bi al-ma’tsur adalah penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, atau hadits atau pendapat shahabat atau tabi’in.[12] Sedangkan sebelum al-Zarqani, yang dimaksud tafsir bi al-ma’tsur adalah kompilasi penafsiran nabi, sahabat dan tabi’in.[13] Ulama’ yang memahami bahwa tafsir bi al-ma’tsur bukan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an atau hadits atau pendapat sahabat atau tabi’in adalah al-Suyuthi. Dalam muqaddimah tafsirnya, al-Suyuthi mengatakan bahwa isi dari kitab tafsirnya adalah kompilasi penafsiran-penafsiran Nabi SAW dan para shahabat.[14]

  1. 2.      Klasifikasi Tafsir bi al-Ma’tsur

Di atas telah dibahas tentang perbedaan dalam memaknai tafsir bi al-ma’tsur. Pertama adalah pendapat yang meyakini tafsir bi al-ma’tsur dengan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, hadits, pendapat shahabat dan tabi’in. Kedua, tafsir yang berupa kompilasi penafsiran Nabi, shahabat dan tabi’in. Sekalipun redaksionalnya berdekatan, namun hakekat dari kedua definisi ini sangat jauh berbeda.

Tafsir bi al-ma’tsur, jika diartikan sebagai kompilasi penafsiran Nabi, shahabat dan tabi’in, maka riwayat menjalankan fungsi interpretatif. Riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi, shahabat dan tabi’in secara langsung menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. Riwayat tersebut langsung menjelaskan bahwa maksud ayat “ini” adalah “begini”. Oleh karena itu, ruh dari tafsir bi al-ma’tsur yang semacam adalah naql (penukilan riwayat). Dengan demikian, maka penulis kitab tafsir (baca: penafsir) hanya menulis tafsir dengan menukil riwayat Nabi, Shahabat atau tabi’in dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, bukan sebagai penafsir. Definisi semacam inilah yang dipegang oleh al-Suyuthi.[15]

Sedangkan bila tafsir bi al-ma’tsur diartikan sebagai penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, atau hadits atau pendapat shahabat atau tabi’in, maka ruhnya bukan lagi naql melainkan istidlal. Istidlal berarti menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yi (akal) yang didasari dengan dalil, baik dalil itu dari al-Qur’an sendiri atau dari hadits Nabi, atau dari pendapat shahabat atau tabi’in. Dalam definisi tafsir jenis ini, riwayat tidak lagi berfungsi interpretatif, melainkan argumentatif. Mufassir akan mengatakan bahwa menurut pendapatnya tafsir ayat “ini” adalah “begini” dasarnya adalah al-Qur’an surat ini ayat ini, atau hadits ini, atau pendapat shahabat ini, atau pendapat tabi’in ini. Sehingga dalil al-Qur’an, hadits nabi, pendapat shahabat atau tabi’in hanya sebagai sandaran, sedangkan penafsiran berasal dari pemikiran penafsir sendiri.

Dalam perdebatan ini, maka penulis sepakat dengan Nur Faizin yang mengatakan bahwa definisi tafsir bi al-ma’tsur yang lebih tepat adalah tafsir yang dinukil dari Nabi SAW, tafsir shahabat yang bernilai marfu’, tafsir yang menjadi ijma’ shahabat dan tafsir yang menjadi ijma’ tabi’in. Sedangkan selain keempat macam tafsir ini adalah masuk kategori tafsir bi al-ra’yi.[16]

  1. 3.      Macam dan Bentuk Tafsir bi al-Ma’tsur

Tafsir bi al-Ma’tsur merupakan penafsiran dengan menggunakan riwayat sebagai sumber pokoknya. Karena itu, tafsir ini dinamakan juga dengan tafsir bi al-riwayah (tafsir dengan riwayat) atau tafsir bi al-manqal (tafsir dengan menggunakan pengutipan riwayat). Penafsiran corak ini dapat dibagi menjadi empat macam dan bentuknya yaitu:

1)     Penafsiran ayat al-Qur’an dengan ayat yang lain. Ayat-ayat al-Qur’an, menurut para ahli tafsir, saling menafsirkan antara sesamanya. Penafsiran satu ayat dengan ayat lainnya juga bermacam-macam, yaitu:

Pertama, ayat atau ayat-ayat lain menyebarkan apa yang diungkapkan pada ayat tertentu. Misalnya, kata-kata al-Muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) dalam ayat 2 surat al-Baqarah, dijabarkan ayat-ayat sesudahnya (ayat-ayat 3, 4, 5) yang menyatakan :

tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=ø‹tóø9$$Î/ tbqãK‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZムÇÌÈ   tûïÏ%©!$#ur tbqãZÏB÷sム!$oÿÏ3 tA̓Ré& y7ø‹s9Î) !$tBur tA̓Ré& `ÏB y7Î=ö7s% ÍotÅzFy$$Î/ur ö/ãf tbqãZÏ%qムÇÍÈ   y7Í´¯»s9′ré& 4’n?t㠓W‰èd `ÏiB öNÎgÎn/§‘ ( y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ

Artinya : “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka orang-orang yang beruntung”. (Q.S. al- Baqarah : 3,4,5).

Kedua, ada informasi tertentu, misalnya tentang kisah Nabi Musa pada surah tertentu diungkapkan secara singkat, sementara pada surah lain secara panjang lebar. Dalam hal ini ayat-ayat yang panjang lebar menafsirkan ayat-ayat yang mengandung informasi yang lebih singkat.[17]

Ketiga, ayat-ayat yang mujmal ditafsirkan oleh ayat-ayat yang mubayyan, ayat-ayat yang muthlaq ditafsirkan oleh ayat-ayat yang khas. Ringkasnya, ayat-ayat yang mengandung pengertian umum dan global ditafsirkan oleh ayat-ayat yang mengandung pengertian khusus dan rinci.

Keempat, informasi yang terkandung dalam satu ayat kadang-kadang terlihat berbeda dengan informasi yang terdapat pada ayat-ayat lain. Penafsiran ayat-ayat itu dilakukan dengan mengkompromikan pengertian-pengertian tersebut.

2)     Penafsiran ayat al-Qur’an dengan hadits Nabi Saw. Firman Allah dalam soal ‘amar ma’ruf  nahi munkar :

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

Artinya : Dan hendaklah kamu suatu golongan yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh ma’ruf mencegah kemunkaran dan itulah mereka yang mendapat kemenangan (QS. Ali Imran: 104).

Sabda Nabi dalam soal tersebut sebagai berikut:

لتأمرن بالمعروف ولتنهون عن المنكر او ليسلطن الله عليكم شراركم فيدعو خياركم فلا يستجاب لهم.

Artinya : “Hendaklah kamu menyuruh ma’ruf dan hendaklah kamu mencegah kemunkaran dan biarlah Tuhan mengeraskan atas kamu orang-orang yang jahat dari kamu, lalu berdoalah kamu orang-orang yang baik dari kamu tetapi tidak diperkenankan doanya”.[18]

3)     Penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat para Sahabat.

Ayat al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 158 yang berbunyi sebagai berikut:

* ¨bÎ) $xÿ¢Á9$# nouröyJø9$#ur `ÏB ̍ͬ!$yèx© «!$# ( ô`yJsù ¢kym |MøŠt7ø9$# Írr& tyJtFôã$# Ÿxsù yy$oYã_ Ïmø‹n=tã br& š’§q©Ütƒ $yJÎgÎ/ 4 `tBur tí§qsÜs? #ZŽöyz ¨bÎ*sù ©!$# íÏ.$x© íOŠÎ=tã ÇÊÎÑÈ

Artinya : Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah di antara syiar-syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke BaitullAh dan berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri Kebaikan lagi Maha Mengetahui.  (Q.S. al- Baqarah : 158)

Mengenai ayat ini seorang kemenakan `Aisyah menanyakan kepadanya, maka `Aisyah ra. menjelaskan bahwa peniadaan dosa di sini dimaksudkan untuk penolakan terhadap keyakinan kaum muslimin bahwa sa’i di antara Shafa dan Marwa termasuk perbuatan jahiliyah.[19] Sebagaimana hadis yang berbunyi sebagai berikut:

  بدأ بما بدأ الله الصفا. } رواه  مسلم{

Artinya : Mulailah dengan apa yang dimulai oleh Allah yakni Shafa  (H.R.Muslim)

4)     Penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapat Tabi’in. Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 26 sebagai berikut :

* ¨bÎ) ©!$# Ÿw ÿ¾ÄÓ÷ÕtGó¡tƒ br& z>ΎôØo„ WxsVtB $¨B Zp|Êqãèt/ $yJsù $ygs%öqsù 4

Artinya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. (Q.S al- Baqarah : 26).

Menurut Hasan ‘Ibn Yahya, mengapa Allah menyebut nyamuk atau yang sebangsanya yaitu lalat dan laba-laba, kemudian orang musyrik berkata, mengapa Allah Swt menyebut sebangsa lalat dan laba-laba, menurut ‘Ibn `Abbas ini adalah merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.[20]

Penafsiran ayat al-Qur’an dengan pendapatnya para Tabi’in setelah generasi para Sahabat, mereka adalah orang yang mengetahui kandungan al-Qur’an karena generasi Tabi’in bergaul dengan para Sahabat, pendapat mereka dipandang sangat membantu generasi selanjutnya dalam memahami al-Qur’an. Perkembangan metode penafsiran ini dapat dibagi dua periode, yaitu periode lisan, ketika penafsiran dari Nabi Saw dan para Sahabat disebarluaskan secara periwayatan, dan periode tulisan, ketika riwayat-riwayat yang sebelumnya tersebar secara lisan mulai dibukukan.[21]

Bermacam-macam metodologi tafsir dan coraknya telah diperkenalkan dan diterapkan oleh pakar-pakars al-Qur’an, kalau kita mengamati metode penafsiran Sahabat  Nabi Saw mereka merujuk kepada penggunaan bahasa dan syair-syair `Arab, cukup banyak contoh yang dapat dikemukakan tentang hal ini, misalnya `Umar bin Khattab pernah bertanya tentang arti takhwwuf dalam     firman Allah :

÷rr& óOèdx‹äzù’tƒ 4’n?tã 7$•qsƒrB ¨bÎ*sù öNä3­/u‘ Ô$râäts9 íO‹Ïm§‘ ÇÍÐÈ

Artinya : Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha penyayang. ( Q.S. An- Nahl: 47).

Sementara itu seorang `Arab dari kabilah Huwa’il menjelaskan bahwa artinya : “pengurangan”. Arti ini berdasarkan penggunaan bahasa yang dibuktikan dengan syair-syair pra Islam. Umar ketika itu merasa puas dan menganjurkan untuk mempelajari syair-syair tersebut dalam rangka memahami al-Qur’an.[22]

Setelah masa Sahabatpun, para Tabi’in dan atba’ at-Tabi’in masih mengandalkan metode periwayatan dan kebahasaan seperti sebelumnya. Menurut Quraish Shihab, mengandalkan metode ini jelas memiliki keistimewaan dan kekurangan. Adapun keistimewaannya adalah :

a)      Menekankan pentingnya bahasa dalam memahami al-Qur’an.

b)      Memaparkan ketelitian redaksi ayat ketika menyampaikan pesan-pesannya.

c)      Mengikat mufassir dalam bingkai teks ayat-ayat sehingga membatasi terjerumus dalam subjektivitas berlebihan.[23]

Di sisi lain, kelemahan yang terlihat dalam kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode ini adalah :

  1. Terjerumusnya sang mufassir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele sehingga pesan pokok al-Qur’an menjadi kabur di celah uraian itu.
  2. Sering kali konteks turunnya ayat hampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya.[24]
  1. 4.      Pandangan Ulama Tentang Nilai Tafsir bi al-Ma’tsur

Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur’an adalah khalifah yang empat, ‘Ibn Mas’ud, ‘Ibn `Abbas, `Ubai bin Ka`ab, Zaid bin Tsabit, ‘Abu Musa al-‘Asy`ari, `Abdullah bin Zubair, ‘Anas bin Malik, `Abdullah bin `Umar, Jabir bin `Abdullah, `Abdullah bin `Amr bin `Ash dan `Aisyah, dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka. Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepada mereka dan kepada sahabat yang lain di berbagai tempat yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihan, dan kedha’ifannya di lihat dari sudut sanad (mata rantai periwayat).[25]

Tidak diragukan lagi, tafsir bi al-Ma’tsur yang berasal dari Sahabat  mempunyai nilai tersendiri. Jumhur `ulama berpendapat, tafsir Sahabat  mempunyai status hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah) bila berkenaan dengan asbab al’nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’yu. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra’yu maka statusnya adalah mauquf (terhenti) pada sahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah.

Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir mauquf pada Sahabat, karena merekalah yang paling ahli bahasa `Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui oleh mereka, di samping mereka mempunyai pemahaman yang sahih. Yarkasy dalam kitabnya al-Burhan fi ’Ulum al Qur’an berkata : ketahuilah al-Qur’an itu ada dua bagian. Satu penafsirannya datang berdasarkan naql (riwayat) dan bagian yang lain tidak dengan naql. Yang pertama, penafsirannya itu adakalanya dari Nabi, Sahabat  atau tokoh Tabi’in. Jika dari Nabi, hanya perlu dicari kesalahan sanadnya. Jika berasal dari sahabat, perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa ? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa `Arab, karena pendapatnya dapat dijadikan pegangan, atau jika mereka menafsirkan berdasarkan asbab al-nuzul atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan, maka hal itupun tidak diragukan lagi.[26]

  1. 5.      Hubungan dan Kedudukan Israiliyat dalam Tafsir bi al-Ma’tsur

Para ulama berbeda pendapat mengenai status tafsir bi al-Ma’tsur, ada yang mengatakan bisa menjadi hujjah dan ada yang tidak bisa menjadi hujjah. Ada beberapa hal yang menyebabkan tafsir bi al-Ma’tsur tidak bisa menjadi hujjah, yaitu :

a)      Adanya tafsiran palsu yang disandarkan kepada Sahabat  dan para Tabi’in.

b)      Masuknya unsur-unsur cerita Israiliyat.

c)      Adanya Penghapusan Isnad, sehingga tidak diketahui dari siapa tafsir itu diriwayatkan.17

Tafsiran palsu terjadi karena adanya fanatisme dari golongan. Mereka membuat tafsir al-Qur’an yang menisbahkan kepada Nabi melalui sahabat dekat mereka, sementara golongan syi’ah menisbahkannya Rasulullah melalui imam ahli bait. Penafsiran yang paling dipalsukan adalah terhadap `Ali bin Abi Thalib dan ‘Ibn `Abbas, karena mereka dari kalangan ahli bait, dengan menisbahkan tafsiran kepada mereka agar tafsiran tersebut dapat diterima sebagai hujjah,18 Sedangkan masuknya cerita Israiliyat ke dalam tafsir para sahabat dan Tabi’in, menurut ‘Ibn Khaldun kebanyakan dari kalangan bangsa `Arab, ketika mereka ingin mengetahui asal muasal kejadian rahasia alam dan lain-lain, dan mereka bertanya kepada kalangan ahli kitab, padahal pengetahuan ahli kitab hanya terbatas secara umum dan tidak diketahui secara pasti dari kitab mereka.19

Sedangkan dihapusnya sistem isnad dalam tafsir al-Qur’an menyebabkan sulitnya mencari otentitas riwayat. Hal ini terjadi pada masa Tabi’in akibatnya terjadi penafsiran yang benar dan salah. Tentang tafsiran Tabi’in sebagian ulama menolak untuk dijadikan hujjah sebab para Tabi’in tidak mendengar langsung dari Rasulullah.20

C.    Tafsir bi al-Ra’yi.

  1. 1.      Pengertian Tafsir bi al-Ra’yi

Tafsir bi al-ra’yi berasal dari kata tafsir, bi dan al-ra’yi. Secara semantik al-ra’yi  berarti keyakinan, pengaturan dan akal. Al-ra’yi juga identik dengan ijtihad. [28] Berdasarkan pengertian semantik tersebut, para pakar ilmu tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tafsir bi al-ra’yi adalah menyingkap isi kandungan al-Qur’an dengan ijtihad yang dilakukan oleh akal.

Menurut istilah tafsir bi al-ra’yi adalah penafsiran yang dilakukan dengan menetapkan rasio sebagai titik tolak. Corak ini dinamakan juga dengan al- Tafsir bi al-Ijtihadi, yaitu penafsiran yang menggunakan ijtihad. Karena penafsiran seperti ini didasarkan atas hasil pemikiran seorang mufassir. Perbedaan-perbedaan antara satu mufassir dengan mufassir lain lebih mungkin terjadi, dibandingkan al- Tafsir bi al-ma’tsur. Karena alasan tersebut, beberapa ulama menolak penafsiran dengan corak ini, dan menyebutnya sebagai al- Tafsir bi al- Hawa (tafsir atas dasar hawa nafsu). Namun, banyak para ulama yang dapat menerima tafsir corak ini juga, tapi dengan syarat-syarat tertentu pula. Penerimaan mereka didasarkan atas ayat-ayat al-Qur’an sendiri, yang menurut mereka, memang menganjurkan manusia untuk memikirkan dan memahami kandungannya. Adapun ayat-ayat yang mendukung kebolehan tafsir corak ini, sebagaimana yang dikutip Shubhi al-Shalih, adalah sebagai berikut.21

Ÿxsùr& tbr㍭/y‰tGtƒ šc#uäöà)ø9$# ôQr& 4’n?tã A>qè=è% !$ygä9$xÿø%r& ÇËÍÈ

Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci”. (Q.S. Muhammad: 24).

ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9′ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ

Artinya: “Ini adalah kitab yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah, agar mereka memperhatikan ayat-ayat dan orang-orang yang mempunyai pikiran dapat memperoleh pelajaran darinya”. (Q.S. as-Shad: 29).

Perlu dijelaskan, meskipun mufassir dalam hal ini menggunakan pemikiran, namun ia tidaklah bebas mutlak. Mufassir harus bertolak dari pemahamannya terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pemahaman tersebut tidak cukup untuk menjamin penafsiran cara ini. Karena itu, dalam menggunakan corak tafsir ini diberlakukan syarat-syarat mufassir dan kaedah-kaedah penafsiran yang ketat, antara lain:

1)      Memiliki pengetahuan bahasa Arab dan segala seluk beluknya.

2)      Menguasai ilmu-ilmu al-Qur’an.

3)      Menguasai ilmu- ilmu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu al-Qur’an, seperti hadis, Ushul fiqh dan lain sebagainya.

4)      Beraqidah yang benar.

5)      Mengetahui prinsip-prinsip pokok agama Islam.

6)      Menguasai ilmu yang berhubungan dengan pokok bahasan ayat yang ditafsirkan.22

  1. b.      Klasifikasi Tafsir bi al-Ra’yi

Tafsir bi al-ra’yi juga dibagi menjadi dua; tafsir bi al-ra’yi al-madzmum (yang tercela) dan al-mahmud (yang terpuji). [29] Ibnu Hajar al-Aaqalani menjelaskan bahwa pada mulanya seluruh tafsir bi al-ra’yi adalah tercela. Hal ini karena adanya hadits yang melarang penafsiran al-Qur’an dengan al-ra’yi.[30] Namun pada abad kelima hijriyah, karena kebutuhan  dan tuntutan zaman, ada kampanye untuk membentuk opini bahwa tidak semua tafsir bi al-ra’yi  tercela, ada juga yang terpuji, yaitu tafsir bi al-ra’yi yang berdasarkan dalil. Dan kampanye ini cukup berhasil.

Sedangkan dari segi penyandarannya terhadap dalil naqli, tafsir bi al-ra’yi dibagi kepada dua, yaitu tafsir naqli dan tafsir ‘aqli. Dari dua jenis tafsir tersebut yang saling ketemu itu timbullah tafsir yang didasarkan pada pendapat atau opini. Jenis tafsir ini dilarang muthlak oleh sementara ulama. Larangan tersebut berdasarkan pada sebuah hadis; “Barang siapa yang berbicara mengenai al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, walaupun ternyata benar, maka ia tetap telah berbuat sesuatu yang keliru”. Inilah yang oleh Mawardi disebut tafsir al-madzmum. Sedangkan menurut pemahaman penulis, yang dimaksud  “pendapat” dalam hadis tersebut ialah perkataan yang diucapkan tanpa dalil yang sah menurut syara’. Orang yang berbuat demikian itu tidak menempuh jalan yang lurus dalam menafsirkan al-Qur’an. Akan tetapi jika orang menafsirkan al-Qur’an berdasarkan dalil-dalil yang sah menurut syara’, tentu pendapatnya patut dipuji dan sama sekali tidak membahayakan agama. Tafsir seperti ini yang disebut al-mahmud.

Apabila zaman sahabat sampai dengan zaman at-Thabari (225 H/839 M-310 H/923 M) penafsiran ayat dilakukan dengan cara menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan hadis-hadis nabi SAW, ataupun al-Qur’an dengan ijtihad para sahabat, maka pada zaman sesudah at-thabari timbullah berbagai penafsiran, aliran, dan dengan berbagai pendapat.23 Tafsir yang disandarkan kepada al-Qur’an, hadis Nabi SAW dan perkataan sahabat dikenal dengan Tafsir bi al- Ma’tsur sebagaimana telah dibicarakan di atas. Sedangkan penafsiran yang disebut terakhir dinamakan Tafsir bi al-Ra’yi.

Setelah zaman at-Thabari, tafsir sudah bercampur dengan pendapat-pendapat pribadi para mufassir. Bahkan mereka sudah mulai melakukan penafsiran dengan mengunakan akal, sehingga ada penafsiran ayat yang keluar dari makna kata. Hal ini terjadi karena pengaruh pendapat pribadi, ilmu pengetahuan dan perkembagan zaman. Para ulama berbeda pendapat mengenai tafsir bi ar-Ra’yi. Ada yang mengharamkan dan ada pula yang membolehkannnya. Yang mengharamkan, diantaranya Sa’id bin Musayyab, ulama dari kalangan Tabi’in (15-94 H), dan yang membolehkan di antaranya ; Mujahid bin Jabir ulama dari kalangan Tabi’in (18 H/639 M-101 H/719 M) dan ulama-ulama dari kalangan Mu’tazilah, seperti al-Jahiz ‘Abu `Usman bin Bahar (w. 255H) dan an-Nazzam (w. 231 M).

Pada hakikatnya perbedaan itu berkisar sekitar apakah penafsiran yang dilakukan melalui pendapat akal semata tanpa memperhatikan kaedah-kaedah bahasa, prinsip-prinsip Syara’ dan lain sebagainya. Hal ini dapat dikatakan telah memenuhi apa yang dikehendaki Allah SWT. Namun, apabila penggunaan akal tersebut disertai dengan syrat-syarat yang diperlukan bagi seorang mufassir, maka tidak ada halangan menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu. Bahkan al-Qur’an sangat menganjurkan untuk mempergunakan ijtihad dalam memahami ayat-ayat-Nya dan ajaran-ajaran-Nya.

Pada periode ini bermunculan kitab-kitab tafsir dengan berbagai pendekatan seperti pendekatan bahasa, ilmu pengetahuan, fiqh, sejarah, tasawuf dan teologi,untuk dapat menerima penafsiran melalui tafsir bi al-ra’yi, Az-Zarkasy mengemukakan sekurang kurangnya ada empat (4) syarat yang harus dipenuhi, antara lain:

1)    Ra’yu tersebut merupakan nukilan dari Rasulullah SAW, dengan  tetap memperhatikan nilai nukilan itu.

2)    Ra’yu tersebut terambil dari perkataan sahabat.

3)    Harus mempertahankan prinsip-prinsip kebahasaan.

4)    Berpedoman pada arti kalimat yang sesuai dengan ketentuan syara’.24

D.    Kitab-kitab yang tergolong Tafsir bi al-Ma’tsur dan Tafsir bi al- Ra’yi.

Adapun kitab-kitab yang terkenal dalam katagori Tafsir bi al-ma’tsur, antara lain :

v  Jami’ al- Bayan fi Tafsir al-Qur’an : Abu Ja’far Muhammad Jarir At-Thabari (w. 310 H/923 M).

v  Bahr al- ‘Ulum : Nashr bin Muhammad as- Samarqandi.

v  Al- Kassyaf  wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Qur’an : ‘Abu Ishaq as- Sa’labi.

v  Ma`alim at- Tanzil : Muhammad al- Husain al- Baghawy (w. 516 H/1122 M).

v  Al- Muharrir al- Wajiz fi Tafsir al- Kitab al- ‘Aziz : ‘Abu Muhammad al- ‘Andalusi.

v  Tafsir al–Qur’an al- `Adhim : Ibnu Katsir (w. 774 H/1373 M).

v  Al- Jawahir al- Hisan fi Tafsir al-Qur’an : ‘Abu Zaid as- Sa’alibi.

v  Ad- Durr al- Mansur fi at- Tafsir bi al- Ma’tsur : Jalaluddin As- Suyuty (w. 911 H/1505 M).

Sedangkan kitab-kitab yang tergolong kepada Tafsir bi al- ra’yi, antara lain :

v  Al- Bahr al- Muhit : Muhammad al- ‘Andalusi.

v  Ghara’ib al- Qur’an wa Ragha’ib al- Furqan : Nizamuddin an- Nisabur.

v  Ruh al- Ma`ani fi Tafsir al-Qur’an al- ‘Adhim wa as- Sab’ al- Masani : Allamah al- Alusi.

Selanjutnya juga dikenal kitab-kitab Tafsir bi al- ra’yi dari kalangan Mu’tazilah, seperti :

v  Tanzih al-Qur’an ‘an al- Mata’in : Al- Qadhi `Abdul Jabbar.

v  Amali asy- Syarif al- Murtada : ‘Abu al- Qasim `Ali at- Tahir.

v  Al- Kasysyaf ‘an Haqa’iq at- Tanzil wa ‘Uyun al- Aqawil fi Wujud at- Tanzil : ‘Abu al- Qasim Mahmud bin `Umar az- Zamakhsyari.

Di samping itu juga masih banyak sekali kitab-kitab tafsir dalam bidang tasawuf, filsafat dan hukum. Adapun yang khusus dalam bidang hukum, antara lain :

v  Al- Jami’ fi Ahkam al- Qur’an : Imam al- Qurtubi.

v  Ahkam al- Qur’an : ‘Ibnu `Arabi dan ‘Abu Bakar al- Jassas.

v  Rawa’i al- Bayan fi Tafsir al- Qur’an : Muhammad `Ali as- Shabani.

v  Tafsir ayat al- Ahkam : Muhammad `Ali as- Sayyis.25

E.     Penutup

Dari pembahasan di atas mengenai tafsir bi al-ma’tsur dan Tafsir bi al-ra’yi dapat disimpulkan bahwa tafsir bi al-ma’tsur adalah suatu usaha untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an atau dengan al- Hadits bahkan perkataan para sahabat termasuk juga para tabi’in, dan penafsiran ini adalah merupakan jalan yang paling aman untuk menghindari terjadinya salah pemahaman terhadap makna ayat al-Qur’an yang maknanya kurang jelas, dan tafsir ini sudah dimulai dari masa sahabat dan mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang yang semasa dengan mereka. Tidak mencakup semua ayat al-Qur’an, dan mereka juga menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami orang semasa dengan mereka.

Tafsir bi al-ma’tsur pada umumnya seragam, karena sumber yang dipakai adalah sama, yakni al-Qur’an, Sunnah, perkataan Sahabat dan seterusnya. Sedangkan tafsir bi al-ra’yi akan jauh dari seragam, keseragamannya hanya akan terlihat dalam menafsirkan kata-kata yang sudah sangat jelas tunjukannya, sedangkan pada hal-hal lain, maka penafsiran dengan rasio ini akan terpengaruh dengan cara seseorang berfikir, menganalisa, tempat, masa, kondisi dan situasi.

Tafsir bi al-ra’yi lebih tertutup peluangnya untuk tercampur dengan israiliyyat, karena tafsir ini tidak akan memakai sumber yang tidak jelas sumbernya dan yang tidak masuk akal. Sementara peluang itu relatif lebih besar pada tafsir bi al-ma’tsur.

Tafsir bi al-ra’yi terlihat lebih dapat dipahami bila dikaitkan dengan masa ke-kinian, karena tafsir ini akan terus berubah sesuai dengan corak pemikiran dan zaman, sementara tafsir bi al-ma’tsur, karena sumbernya sudah tetap, maka sifatnya akan statis, intrepretasi terhadap sumber-sumber tafsirnyalah yang kemudian bisa berubah-ubah. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA

‘Amin, ‘Ahmad. Fajr al-Islam. Kairo: Syarikh al-Thiba’ah al-Faniyah, 1975.

Al-‘Akh, `Abd. Rahman. ‘Ushul al-Tafsir wa Qawa’idhuhu. Damaskus: Dar al-       Nakhais, 1986.

Al-Aridl, `Ali Hasan. Sejarah dan Metodologi Tafsir, Terj. Ahmad Akrom. Jakarta: Rajawali Press, 1992.

Al-Dzahaby, Muhammad Husain. Al-Tafsir wa al-Mufassir. Kairo: Maktabah      Wahbah, 2000.

Al-Farmawy, `Abd. Al-Hayy. Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’iy: Dirasat Mauhajiyyah Mawdhu’iyyah, t.p., 1997.

Al-Qattan, Manna Khalil. Mabahit£ fi ‘Ulum al- Qur’an. Riyadh: Mansurat al-Hadits, 1973.

Al-Syatibi, Al-Muwafaqat, Jilid II. Beirut:  Dar al-Ma’rifah, t.t.

Al-Zarkasyi, Badr al-Din Muhammad Ibn Abdullah, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Beirut, Dar al-Fikr, 1988, v.2

Ash-Shiddieqy, M. Hasby, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, Jakarta, Bulan Bintang, 1978.

__________, Sejarah ‘Ulumul Qur’an. (ed). Azyumardi Azra, Cet. II. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

As-Shabuni, Muhammad `Ali. Tibyan Fi  ’Ulum Al-Qur’an. t.tp., 1998.

Al-Suyuthi, Jalal al-Din, Itqan fil ‘Ulumi al-Qur’an, Beirut, Dar al-Fikr, 1999 Cet. I

As-Suyuthi, Imam Jalaludin, Samudera Ulumul Qur’an (al-Itqan fi Ulumil Qur’an)Jilid IV, terj. Surabaya, Bina Ilmu, 2006

As-Suyuty, Jalaluddin. Tafsir Jalalaen : Berikut Asbabun Nuzul Ayat Surat Al-Fatihah-Surat Al-An’am, Terj. Mahyuddin Syah dkk. Bandung: Sinar Baru, 1990.

At-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami’ ’ulama al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kitab al-`Ilmi, 1992.

Ensiklopedi Islam,  Jilid. V. Jakarta:  Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999.

Faizin, Nur M, LC., MA., 10 Tema Kontroversial ‘Ulumul Qur’an, Kediri, CV. Azhar Risalah, 2011

Khaldun, ‘Ibn. Muqaddimah. Beirut:  Dar al-Fikri, t.t.

Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an, Bandung, Mizan, 1994.


[1] Lihat surat al-Baqarah (2) ayat 2.

[2] Lihat surat al-Baqarah (2) ayat 185.

[3] Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui maknanya dengan jelas, tidak dapat ditakwilkan kecuali dengan satu takwil saja, lafalnya tidak diulang-ulang, ayat-ayat yang tidak dinasakh, dan yang berkenaan dengan halal dan haram. Lihat Jalal al-Din al-Suyuthi, Itqan fil ‘Ulumi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999) Cet. I, hal. 299-300.

[4] Mutasyabih adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah SwT, seperti kedatangan hari kiamat dan maksud dari huruf-huruf terpisah yang terdapat pada beberapa awal surat dalam al-Qur’an. Mutasyabih juga mengandung maksud ayat yang mungkin dapat ditakwilkan dengan banyak pentakwilan. Lihat Jalal al-Din al-Suyuthi, Ibid.

[5] Nur Faizin M, LC., MA., 10 Tema Kontroversial ‘Ulumul Qur’an, (Kediri: CV. Azhar Risalah, 2011), hal. 130.

[6]M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an (Bandung : Mizan, 1994), hal. 83.

[7] Penjelasan mengenai syarat- syarat mufassir dapat dilihat dalam Imam Jalaludin As-Suyuthi, Samudera Ulumul Qur’an (al-Itqan fi Ulumil Qur’an)Jilid IV, terj. (Surabaya: Bina Ilmu, 2006), hal. 247-255.

[8]M. Hasby Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hal. 185-186.

[9]‘Ali Hasan al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Terj. Ahmad ‘Akram (Jakarta : Rajawali Press, 1992), hal. 3.

[10] Badr al-Din Muhammad Ibn Abdullah al-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), v.2, hal. 162-163.

[11]Manna al-Khalil al-Qattan, Mabahitz fi ‘Ulum  al-Qur’an, (Riyadh: Mansurat al-Hadits, 1973), hal. 347.

[12] Mawardi Abdullah, Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal 154.

[13] Ibid., hal. 155

[14] Lihat al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1990), jil. 1, cet.1, hal. 17

[15] Al-Suyuthi, Op. Cit.

[16] Nur Faizin M, LC., MA., Op. Cit., hal. 76

[17]`Abd. Rahman al-‘Akh, ‘Ushul al-Tafsir wa Qawa’idhuhu (Damaskus : Dar al-Nakhais, 1986), hal. 115.

[18] Hasby As-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), hal. 163.

[19] Jalaluddin As-Syuyuthi, Tafsir Jalalayn ; Berikut ‘Asbabun Nuzul Ayat Surat al-Fatihah-Surah  al-An`am, Terj. Mahyuddin Syat  et.. el. (Bandung : Sinar Baru, 1990),  hal. 83.

[20]Muhammad bin Jarir at-Thabari, Jami` al- `Ulama al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Beirut : Dar al-Kitab al-`Ilmi, 1992), hal. 214.

[21]`Abd. al-Hayy al-Farmawy, Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu`y: (Dirasat Mauhajiyyah Mawdhu’iyyah, t.p., 1997),  hal. 23.

[22] Al-Syatiby, Al-Muwafaqat, Jilid II (Beirut : Dar al-Ma’rifah, t.t.),  hal. 18.

[23] M. Quraish Shihab, Op. Cit. , hal. 84.

[24] Ibid.

[25] Manna Khalil al-Qattan, Op. Cot., hal. 472.

[26] Ibid., hal. 473.

17Muhammad Husein al- Dzahaby, Al- Tafsir wa al- Mafassir, (Kairo : Maktabah Wahbah, 2000), hal. 157.

18’’Ahmad Amin, Fajr al- Islam, (Kairo: Syarikh al- Thiba’ah al- Faniyah, 1975), hal. 203.

19’’Ibn Khaldun, Muqaddimah, (Beirut : Dar al-Fikri, t.t.), hal. 440.

20 Muhammad Husain al-Dzahaby, Op. Cit.,  hal. 128.

[28] Mawardi Abdullah, Op. Cit, hal. 155. Lihat juga Khalid Abd al-Rahman al-‘Ak, Ushul al-Tafsir wa Qawa’iduh, (Damaskus: Dar al-Nafais, 1986), hal. 167.

21 M. Quraish shihab, Sejarah ‘Ulumul Qur’an. (ed). Azyumardi Azra, Cet. II (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), h.. 177.

22Ibid.

[29] Mawardi Abdullah, Op. Cit, hal. 156.

[30] Dijelaskan oleh al-Asqalani bahwa ada dua puluh lima hadits marfu’ yang dapat ditemukan berkaitan larangan menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yi, tidak satupun yang memenuhi kriteria hadits shahih, baik hadits-hadits yang berasal dari Ibn Abbas, maupun yang berasal dari Jundab Ibn Abdllah. Dilihat dari segi sanad, hadits-hadits itu tergolong gharib muthlaq,  karena sanad hadits-hadits tersebut “menyendiri” pada ashal sanad. Rangkaian sanad hadits-hadits Ibn Abbas RA mengkerucut pada “Abdul A’la, dari Sa’id Ibn Jubayr, dari Ibn Abbas ra.”, sedangkan rangkaian sanad hadits-hadits Jundab Ibn Abdillah ra mengkerucut pada “Suhail Ibn Mihran dari Abu ‘Imran dari Jundab Ibn Abdillah ra.” Menurut al-Asqalani, baik Abdul A’la maupun Suhail Ibn Maryam, keduanya tergolong rawi yang dla’if. Lihat Ibid., hal. 157.

23Ensiklopedi Islam,  Jilid. V (Jakarta; Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), hal. 30.

24 Ibid, hal. 31.

25 Ibid.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Tafsir Bi al-Ma’tsur dan Bi al-Ra’yi”

RSS Feed for sugito DOT COM Comments RSS Feed


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: